Balada 100 Hari Pemerintahan Presiden Jokowi

0
7

voa-islam.com – Jokowi memulai karir politiknya sangat dramatis. Tokoh lokal Solo  mendadak sontak menjadi presiden. Ini seperti mimpi di siang  hari. Wali kota Solo yang  tidak begitu banyak dikenal sebelumnya, langsung menduduki jabatan presiden, dan tinggal Istana.

Inilah sebuah konspirasi yang sangat canggih. Kerjasama berbagai kekuatan politik dalam dan luar negeri, berhasil mengangkat sang ‘tokoh’ lokal menjadi presiden.

Jokowi yang kontroversi itu, begitu luar biasa, cara-cara strategi yang dijalankan oleh berbagai kekuatan, sampai dinyatakan menang oleh Mahkamah Konstitusi  (MK), dan dengan keputusan MK itu, seakan  Jokowi mendapatkan legitimasi hukum, dan menyingkirkan Prabowo dan Hatta Rajasa.

Pelantikannya di bulan Oktober, penuh dengan kemeriahan, dan disambut dengan antusiasme. Usai dilantik malam harinya, Jokowi bersama dengan grup music Slank, berjingkrak-jingkrak di panggung, dan mendapatkan sambutan dari para pendukungnya di Monas. Inilah awal kerja dan lahirnya pemimpin baru, Jokowi. Pemimpin yang merakyat.

Hanya beberapa saaat, Jokowi sudah harus terbang ke Beijing. Mengikuti pertemuan APEC. Jokowi mendapatkan perhatian dari berbagai pemimpin dunia. Bertemu dengan Xi Jinping, Barack Obama, David Cameron, Angela Merkel, dan Vladimir Putin dan lainnya.

 Sejumlah negara di forum APEC, ingin membangun kerjasama bilateral dengan Indonesia. Termasuk ratusan CEO perusahaan global, memperhatikan kebijakan Jokowi yang ‘open policy’, dan membuka seluas-luasnya fihak korporasi asing melakukan investasi di Indonesia. Ratusan korporasi global berjanji melakukan investasi di Indonesia yang nilainya triliunan dollar. Asing dan A Seng  tertarik kepada pemerintahan baru Indonesia dibawah Jokowi, dan ingin  berinvestasi.

Usai di pertemuan APEC di Beijing, Jokowi melanjutkan pertemuannya di KTT ASEAN, yang berlangsung di Myanmar. Pertemuan di Myanmar masih seputar tentang kerjasama bilateral antara Negara-negara ASEAN. Nampaknya, di KTT ASEAN ini hanya sedikit kemajuan yang didapatkan Indonesia.

Dari Myanmar, Jokowi langsung terbang ke ibukota Australia, Canberra. Di Canberra berlangsung pertemuan G20. Indonesia yang ekonomi masih terseok-seok, tapi sudah masuk bagian dari Negara-negara G20. Karena posisi Indonesia yang secara geopolitik sangat strategis.

Hanya  sedikit sarkasme di G20 itu, koran local Canberra, Daily Mail, membuat karikatur yang memposisikan Jokowi, melalui sebuah karikaturnya,  sebagai ‘koki’ dengan menggunakan celemek, sedang mangggang ‘barbaque’ bagi para pemimpn G20. Ini menggambarkan betapa Indonesia masih diposisikan oleh Negara maju sebagai negara ‘underdevelopment’, diantara Negara-negara G20.

Tentu, sesuatu yang sangat menarik, Jokowi yang terlalu ‘pede’ itu, sepulangnya dari Canberra, langsung mengadakan rapat kabinet, malam harinya dilanjutkan dengan pengumuman kenaikan BBM.  Di Istana, Jokowi yang didampingi oleh Wapres Jusuf Kalla, dan sejumlah menteri, mengumumkan kenaikan BBM, sebesar Rp 2.000. Tanpa disadari  dampak dari kenaikan BBM itu.

Sebelum dilantik menjadi presiden, Jokowi dan Jusuf Kalla, melalui statemennya, sudah dapat dibaca dengan sangat jelas, bahwa kedua pemimpin baru itu, mengatakan tidak  takut menjadi tidak populer,  karena kebijakan menaikan  BBM. Langkah menaikan BBM itu, diambilnya  di tengah harga minyak dunia hanya tinggal $ 54 dollar/perbarel.

Kebijakan  menaikan BBM itu, menimbulkan reaksi keras dari kalangan masyarakat, terutama mahasiswa  dan buruh. Tapi, pemerintah Jokowi  dengan cepat dapat meredam aksi mahasiswa dan buruh  dengan tindakan repressif oleh aparat keamanan, terutama polisi. Namun, akibat kenaikan BBM itu, membuat kesengsaraan bagi lapisan menengah kebawah. Harga kebutuhan pokok rata-rata naik diatas 30 persen.

Di bidang politik, lebih dramatis lagi, di mana polarisasi politik antara KIH (Koalisi Indonesia Hebat) pendukung Jokowi dan KMP (Koalisi Merah Putih),  semakin keras. Ketika DPR dan alat kelengkapannya dikuasi oleh KMP, maka kemudian KIH mendirikan DPR ‘tandingan’. Mereka sangat arogan. Bahkan memaksa KMP, dan kemudian  melahirkan revisi UU MD3. Ini merupakan puncak dari polarisasi antara  KIH dan KMP.

Dibagian lain, rezim baru yang  dipimpin Jokowi,  mengobrak-abrik internal partai-partai yang ada dalam KMP. Di mulai dari PPP. PPP pecah. Kelompok Romi melakukan muktamar di Surabya, dan langsung mendapatkan pengesahan dari Menkumham. Tujuan mendepak kelompok Suryadarma Ali yang menjadi pendukung KMP. Sukses.

Usai melumpuhkan PPP, skenario berikutnya menghancurkan Golkar dengan  menggunakan tangan ‘proxy’ orang Golkar. Antara kubu Agung Laksono dengan Aburizal Bakrie. Golkar lumpuh. Sampai sekarang belum berhasil membuat ‘ishlah’ antara  kubu Agung Laksono yang didukung rezim Jokowi dengan Aburizal Bakri. Dengan lumpuhnya Golkar, maka pemerintahan Jokowi  berhasil menyingkirkan  kekuatan oposisi yang dinilai akan menjadi ancaman pemerintahannya.

Kenyataannya, sekalipun Jokowi dan  Jusuf Kalla, berhasil melumpuhkan Golkar, dan sudah membuat kebijakan ‘open policy’, kalangan internasional tetap pesimis. Ini terbukti dengan hancurnya nilai tukar rupiah, dan pernah menyentuh di level Rp 12.900. Ini tertinggi sepanjang sejarah. Bersamaan dengan anjloknya nilai tukar rupiah atas dollar, dana ratusan triliun para investor lari keluar negeri.

Inilah  yang melatarbelakangi pertemuan antara Jokowi dengan George Soros, dan reputasinya pernah menghancurkan ekonomi di kawasan ASEAN,  dan menyebabkan jatuhnya rezim-rezim di ASEAN, termasuk Soeharto.

George Soros yang berkedok sebagai philantropis itu, memainkan peranan penting dalam membangun dan menjatuhkan rezim-rezim diberbagai. Seperti yang dilakukannya atas negara-negara Eropa Timur.

Jokowi nampaknya akan menjadi bagian dari kepentingan global, dan kekuatan ‘neo-lib’, dan ini sudah tergambar dari langkah kebijakan yang dibambil oleh Jokowi, seperti menaikan BBM, termasuk kebijakan yang diambil oleh Meneg BUMN, Rini Soemarno, yang menjual asset Negara, dan menempatkan sejumlah CEO di perusahaan negara dan swasta. Nampaknya, kekuatan kapitalisme global semakin dalam menjajah dan mencaplok Indonesia.

Maka, ketika kita bangun dari tidur, dan matahari temaram, menyembul di ufuk timur, dan mulainya  tahun 2015, segala sudah berubah. Termasuk  harga-harga sudah berubah. Semua menjadi mahal. Sekalipun, hari ini Menko Ekuin, Sofyan Djalil akan mengumumkan penurunan harga BBM.

Tapi, itu tidak berdampak bagi harga-harga kebutuhan yang sudah naik. Ini seperti hadiah akhir tahun dari Jokowi,  dan mengharapkan kepercayaan dan dukungan kembali dari rakyat, yang sudah mulai redup. Janjinya tidak yang dapat dipenuhi. Termasuk dalam membentuk kabinet. Ternyata dari tokoh partai politik.

Tentu yang lebih miris. Sejak Jokowi mengawali pemerintahan musibah tidak pernah berhenti. Longsor di Banjarnegara, menewaskan lebih dari 140 orang. Meninggalkan kessedihan yang mendalam. Banjir dan gunung berapi terus berlangsung di beberapa wilayah Indonesia. Musibah itu belum berakhir,  sekarang pesawat Air Asia jatuh,  dan seluruh penumpang dan awaknya, berjumlah 160 orang kemungkinan besar tewas seluruhnya.

Balada 100 hari pemerintahan Jokowi begitu penuh dengan paradok. Barangkali tidak  pernah dibayangkan di prediksi oleh mereka yang selama ini mengelu-elukan Jokowi. Rakyat memang mengharapkan tokoh baru yang  dapat memperbaiki nasib mereka.

Justru sekarang yang terjadi berbagai penderitaan. Tanpa henti. Inilah yang perlu menjadi renungan kita. Sejatinya manusia itu tidak boleh sombong, dan berharap kepada manusia lainnya. Karena manusia itu lemah. Tidak memiliki apa-apa.

Semua manusia akan kembali kepada Sang Pencipta. Manusia jangan berharap banyak kepada manusia. Berharaplah  kepada Sang Pencipta Yang Maha Kuasa. Masing-masing nantinya akan mempertangungjawabkan amalnya dihadapan Sang Pencipta. Wallahu’alam.