Tokoh PDIP Effendi Simbolon : Saatnya Lengserkan Presiden Jokowi

0
38

JAKARTA (voa-islam.com) – Kekacauan yang terjadi belakangan ini di pemerintahan, dinilai sebagai momentum tepat untuk melengserkan Presiden Jokowi. Sudah nampak ketidakbecusan Jokowi mengelola pemerintahan.

Maka, menurut politikus PDIP, Effendi Simbolon mengatakan, program kerja dan kebijakan Jokowi tidak sesuai dengan visi misi partainya. Sebab, kebijakan Jokowi kerap bertentangan dengan rakyat kecil.

“Siapapun yang mau menjatuhkan Jokowi, saatnya sekarang. Karena celahnya banyak sekali,” tegas Effendi, dalam sebuah diskusi bertajuk ‘Evaluasi 100 Hari Pemerintahan Jokowi-JK’ di Jakarta, Senin (26/1/2015).

 Untuk itu, kata Effendi, peluang untuk menjatuhkan mantan Gubernur DKI Jakarta itu cukup besar. Menurutnya, peristiwa pergantian pemerintahan seperti Gusdur ke Megawati bisa terjadi.

“Peluang untuk menjatuhkan Jokowi besar sekali. Karena zaman Gusdur ke Megawati bisa saja terjadi. Kurang hebat apa Gusdur saat itu, tapi bisa lengser,” kata Effendi.

 “Jangan-jangan kita nanti kita tidak bisa duduk seperti ini lagi untuk bicara pemerintahan Jokowi, jangan-jangan kita bicara presiden baru,” tegasnya.

Dibagian lain, Effendi Simbolon mengatakan, PDI Perjuangan (PDIP) sebagai partai pengusung Jokowo merasa kecewa soal penyusunan kabinet pemerintahan. Sebab, sebagai partai pemenang pemilu, PDIP tak cukup mendapat porsi dalam struktur kabinet di pemerintahan Jokowi. Politikus PDIP, Effendi Simbolon mendorong agar Jokowi segera melakukan resuffle kabinet. Menurutnya, komposisi menteri dari PDIP harus secara mayoritas.

 “Seyogyanya ini kan kabinet PDIP. Maka masterplain PDIP yang harusnya diimplementasikan,” kata Effendi, usai diskusi publiki bertajuk “Evaluasi 100 Hari Pemerintahan Jokowi-JK”, di Jakarta, Senin (26/1/2015).

Sebab, kata Effendi, komposisi Kabinet Kerja justru didominasi oleh Partai NasDem. Hal tersebut yang berdampak pada kekacauan yang terjadi saat ini, dimana-mana terjadi protes atas kinerja kabinet. “Secara politik saya kecewa. Ini kabinet apa. Jangan cuma NasDem yang dapat melulu,” tegasnya.

 Kata Effendi, sudah menjadi kewajaran jika PDIP mendominasi dari jumlah kursi di kabinet pemerintahan Jokowi. Karena dengan demikian, cita-cita dari PDIP yang dirancang sangat baik untuk membuat perubahan pada bangsa ini bisa terealisasi. “Kalau separuh emang siapa yang larang. 20 orang juga enggak apa-apa. Misal dengan sisa yang ada, Gubernur BI ditaruh orang PDIP, jangan posisi Jaksa Agung malah dikasih ke orang Surya Paloh,” tandasnya.

Memang, menjadi sangat nampak sekarang ini, Jokowi lebih dekat dan percaya kepada si ‘brewok’ Surya Paloh, yang dibelakangnya kumpulan ‘A Seng’, bahkan Surya Paloh memasukan pengusaha Cina, yaitu Jan Darmadi menjadi Watimpres. Begitulah sengkarut  diantara para pendukung Jokowi. (jj/dbs/voa-islam.com)

 

 

Jokowi sebagai Presiden Prematur,

Takkan Lama Memimpin dan diatur oleh ‘Anak Kecil’

 JAKARTA (voa-islam.com) -?Presiden Joko Widodo dianggap terlalu reaktif menanggapi persoalan yang muncul saat ini, yaitu “perseteruan” KPK dengan Polri.?Dimana calon tunggal Kapolri ini mendapat gelar tersangka setelah terindikasi adanya ‘Rekening Gendut’, atau harta yang tidak wajar diterima Budi Gunawan. “Presiden Joko Widodo terlalu cepat ikut menangani kisruh yang ada,” demikian yang diucapkan Efendi Simbolon pada acara diskusi yang diadakan oleh Paska Sarjana Universitas Paramadina kemarin (26/01/2015) siang.

 Menurutnya, hal yang dilakukan Joko Widodo adalah sesuai sistem yang berlaku untuk meresponnya. Misalnya, lanjutnya, beri hak menteri untuk angkat suara menjelaskan. “Biarkan saja menteri lebih dahulu menyelesaikan kisruh yang terjadi antara KPK dan Polri,” tegasnya.

 ” Namun, ia menyebut bahwa apa yang dilakukan Jokowi adalah sebab dari ‘orang belakang’.

 ‘Orang Belakang’ tersebut bagi Efendi sebagai salah satu pengganggu akibat ketidakmampuan Jokowi dalam bertindak. “Di belakang Jokowi ada yang mengganggu. Misalnya saja Rini Soemarno dan Sofyan Jalil,” sebutnya.

 Baginya hal ini terjadi bisa dimaklumi. Sebab presiden yang sekarang memimpin adalah presiden prematur. Pun dengan orang yang duduk di Setgab. Yaitu yang duduk sebagai pimpinan di sana dengan berani mengatur presiden dalam kebijakan, misalnya. “Presidennya saja sudah prematur. Dan yang atur juga anak kecil (Andi Widjayanto), sok mengatur,” sinisnya.

     “Presidennya saja sudah prematur. Dan yang atur juga anak kecil (Andi Widjayanto), sok mengatur,” sinisnya.

 Dan atas ketidakserasian yang tercipta ini, Efendi dapat memastikan usia Joko Widodo tidak akan lama sebagai Presiden. “Dan bisa saja pertemuan selanjutnya (baca: diskusi) presiden telah berganti,” katanya yang disambut appalaus dari para peserta yang hadir, termasuk awak media. [adivammar/surya/voa-islam.com]