Ikan di Tanbu Bebas Formalin

    0
    30

    Kepala Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Banjarmasin, Dra. Rutyawati bersama dengan tim melakukan pengambilan sampling ikan di pasar tradional. (FOTO:dd/hum)

    BATULICIN, BalarindangNews.com.-Lebih baik terlambat dari pda tidak pernah sama sekali, ini penggalan pepatah yang sering dilontarkan oleh masyarakat awam, dan ternyata pepatah ini berlaku bagi instansi yang merasa memiliki tugas untuk keselamatan jiwa masyarakat luas, terutama di kab Tanah Bumbu. Kamis (3/12) kemarin, Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Banjarmasin bersama dengan Tim Dinas Kabupaten Tanah Bumbu melakukan pengambilan sampling dan pengujian Laboratorium hasil produksi perikanan, makanan, dan obat-obatan di Bumi Bersujud.

    Dalam pengambilan sampling sekaligus melakukan pengawasan terhadap ikan tangkapan nelayanan, Tim Balai POM melakukan pengujian di dua tempat kecamatan yang berbeda yaitu, pelabuhan Pelelangan Ikan (PPI) yang berada di Jalan Fitrianoor Kecamatan Simpang Empat hingga ke Pasar Harian untuk mengambil sampling ikan basah dan ikan kering (ikan asin) yang dijual dipasar tradisional di Kecamatan Simpang Empat, dan Kecamatan Kusan Hilir Pagatan.

    Hal ini dilakukan dengan merebaknya rumor atau isu di kota Banjarmasin tentang adanya ikan yang dijual di pasaran mengandung formalin. Balai POM langsung menelusuri isu tersebut dan melakukan penelitian dari hulu datangnya ikan yang masuk ke Banjarmasin, dan diketahui bahwa kebanyakan ikan berasal dari Tanah Bumbu. Penelitianpun dilakukan langsung oleh Kepala Balai POM  Banjarmasin, Dra.Rustyawati, ke Tanbu lengkap membawa alat pengujian Laboratorium bersama timnya serta beberapa Dinas terkait dari kab Tanbu yang ikut ke lapangan melakukan pengujian terhadap ikan hasil tangkapan nelayan di wilayah Tanbu.

    Alhasil, dengan apa yang dilakuakan Balai POM dan dari Dinas kab Tanbu yang ikut serta melakukan pengujian di pasar ikan tersebut, ternyata aman untuk di konsumsi masyarakat. Dari isu yang merebak tentang adanya ikan yang mengandung formalin itu, tidak dapat dibuktikan dan tidak ditemukan di pasar ikan maupun tempat pelelangan ikan (TPI). Selain mengambil sampling ikan basah dan ikan kering, Tim Balai POM Banjarmasin juga mengambil sampling produksi perikanan seperti Terasi dan Ronto (makanan tradisional terbuat dari hasil fermentasi ebi) dan ternyata mengandung bahan berbahaya, yaitu bahan dari zat pewarna kain.

    Meski demikian, hasil penelitian yang dilakukan pihak Balai POM Banjarmasin bersama beberapa Dinas terkait terhadap makanan dan obat-obatan di lapangan, patutlah diberikan apresiasi kepada instansi tersebut. Namun sangatlah disayangkan, penelitian yang dilakukan oleh Tim Balai POM dan Dinas terkait ini tidak kontinyu, terbukti di lapangan masih banyak jenis makanan dan minuman dalam kemasan yang sudah tidak layak untuk di komsumsi beredar dipasaran. Ini semua kuranganya pengawasan oleh beberapa Dinas terkait untuk melakukan pengawasan dan mensosialisasikan terhadap para pedagang yang ada di kabupaten Tanah Bumbu.*(BNews/hum)