Fahri Hamzah : Simbol Kekuasaan Layak Ditumbangkan!

    0
    34

    Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah. (FOTO:voiceofjakarta)

    JAKARTA,BalarindangNews.com-Pemecatan yang dilakukan oleh pihak Universitas Negeri Jakarta (UNJ) terhadap Mahasiswa Fakultas MIPA yang juga Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ronny Setiawan karena rajin bersuara kritis terhadap persoalan sosial dan vocal dalam kampusnya membuat publik bertanya-tanya, ada apakah sebenarnya.

    Sebelum resmi diberhentikan, Rony mendapatkan surat panggilan dari pihak Dekan Fakultas MIPA pada Selasa 5 Januari 2016. “Surat tersebut adalah panggilan untuk orang tua saya agar hadir di ruang dekan FMIPA pada Selasa 5 Januari 2016 pukul 09.00 WIB. Dalam surat itu tidak dituliskan maksud dan tujuan pemanggilan,” kata Ronny dalam rilis yang diterima Voa-Islam, Rabu (6/1/2016) pagi.

    Ketua BEM UNJ Ronny Setiawan memberikan materi dalam sebuah diskusi. (FOTO:pojoksatu)

    Dekan Fakultas MIPA kemudian membacakan Surat Keputusan Rektor UNJdengan Nomor : 01/SP/2016 tentang pemberhentian Ronny sebagai mahasiswa UNJ sekitar pukul 11.00 WIB,. Ronny diberhentikan karena dituding melakukan tindak kejahatan berbasis teknologi, pencemaran nama baik dan aktivitas penghasutan, yang dapat mengganggu ketentraman serta pelaksanaan program yang diselenggarakan UNJ. Mengutip dari Voa-Islam, Ronny bahkan diduga membuka kasus yang melibatkan Rektor dan Gubernur Basuki Tjahja Purnama atau Ahok, yaitu dugaan penyelewengan dana APBD DKI Jakarta untuk Wisma Atlet Asian Games, dan isu Sarana Kuliah FMIPA, yang mana FMIPA ini secara hukum, menurut sumber yang masih menurut dugaan adalah tanah milik Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi DKI Jakarta.

    Beberapa kasus lain juga dibuka Ketua BEM Ronny Setiawan ini, diantaranya kasus pemaksaan Sentralisasi Dana UNJ ke Rektorat dari Fakultas-fakultas, Jurusan-jurusan, Prodi-prodi se-UNJ, dan Labschool, yang sebelumnya dikelola secara otonomi, kemudian kasus pembungkaman dosen/birokrat UNJ yang vocal dan kritis ke Rektorat, Dana-dana Kegiatan Kemahasiswaan banyak yang dihapuskan, terburu-burunya proses perubahan BEM-J ke BEM-Prodi, Dipotongnya dana KKN ke Daerah, yang sebelumnya dibiayai full oleh UNJ. Padahal pihak UNJ mewajibkan KKN ke Daerah yang menyebabkan mahasiswa harus patungan untuk KKN. Selain itu, ditiadakannya keringanan biaya pada mahasiswa kurang mampu, sehingga besarnya biaya kuliah golongan mahasiswa yang kurang mampu sama dengan golongan mahasiswa menengah ke atas.

    Dipecatnya Ronny karena vocal di dalam kampusnya menyebar menjadi viral pada jejaring sosial, hal ini sontak mendapat perhatian dari berbagai pihak. Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah merespon kebijakan Rektor UNJ, masih mengutip laman yang sama, Fahri menuturkan bahwa Rektor UNJ layak ditumbangkan jika ternyata kedudukannya menjadi alat kekuasaan, kampus merupakan tempat kebebasan berpikir yang harus senantiasa disemai, tidak boleh ada simbol kekuasaan. “Dan kalau Rektor telah berubah menjadi simbol kekuasaan maka Rektor pun layak ditumbangkan!” kata Fahri.

    Platform petisi online yang dibuat oleh Aliansi Mahasiswa UNJ dengan judul “Cabut SK DO Rektor UNJ, Selamatkan Ronny Setiawan”.

    Sementara itu, dukungan terhadap Ronny juga membanjir di Change.org. Dalam platform petisi online yang dibuat oleh Aliansi Mahasiswa UNJ tertanggal 6 Januari 2016, dengan judul “Cabut SK DO Rektor UNJ, Selamatkan Ronny Setiawan”. Dalam waktu singkat usai petisi itu dimuat berhasil mengantongi dukungan mencapai 5.710 orang. Hingga berita ini diturunkan, dukungan terhadap Ronny telah mencapai 50.581 pendukung meski Rektor telah menganulir pemecatan Ronny setelah difasilitasi politikus dari PKS. *(BNews/Sumber Berita:Voa-Islam/Liputan6.com/viva.co.id)