Genjot Produksi Cabai dengan Irigasi Tetes

    0
    16

    Ilustrasi sistem jaringan irigasi tetes. (FOTO:bp.blogspot.com/net)

    BATULICIN, BalarindangNews.com-Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan (Distanpanak) Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu) mulai menerapkan sistem jaringan irigasi tetes (drip irigation) pada tanaman cabai guna meningkatkan produktivitas. Sedikitnya tujuh kecamatan di wilayah Tanbu telah melaksanakan sistem tersebut, “irigasi tetes pada tanaman cabai telah dilakukan oleh kelompok tani di tujuh kecamatan yang memiliki potensi pengembangan tanaman cabai untuk meningkatkan produksi,” kata Abdul Karim selaku Kadistanpanak, Rabu (20/1), di Batulicin.

    Program produksi tanaman cabai dianggap sangat potensial untuk meningkatkan perekonomian masyarakat, mengingat cabai merupakan kebutuhan yang sangat dicari sebagai bumbu pelengkap masakan. Penerapan sistem jaringan ini merupakan bagian program pemerintah pusat yang dananya bersumber dari APBN, dengan paket bantuan alat pertanian berupa sarana irigasi tetes sederhana, ph meter, sarana produksi, keranjang panen, pompa air, tendon air, pupuk, dan benih.

    Tanaman cabai yang sudah menerapkan sistem jaringan irigasi tetes di Desa Tri Mulya Kecamatan Sungai Loban.(FOTO:dd/hum)

    Jenis tanaman cabai yang produksinya mulai ditingkatkan adalah cabai rawit dan jenis cabai besar, mulai tahun 2016 pemerintah daerah mentargetkan luas tanaman cabai mampu mencapai 22 hektar terdiri dari tanaman cabai besar seluas 15 hektar dan tanaman cabai rawit seluas 7 hektar. Dengan meningkatkan produksi cabai, diharapkan akan memenuhi kebutuhan cabai di masyarakat.

    Secara terpisah, Kasi Produksi Tanaman Pangan dan Holtikultura, Arbain menyampaikan, irigasi tetes merupakan cara pengairan tanaman yang tepat, karena penggunaan air akan lebih efisien. Sistem jaringan irigasi tetes sendiri ialah pengaliran air dengan menggunakan pipa selang yang dialirkan semua tanaman cabai. Dengan sistem pengairan seperti tersebut, maka produktivitas tanaman cabai tidak perlu dikhawatirkan berdasarkan musim. “Irigasi tetes ini hemat air, tidak mengenal musim, karena pada saat musim kemarau atau musim hujan airnya masih tetap mengalir karena airnya disimpan di tandon,” jelas Arbain.

    Diharapkan, melalui sistem jaringan irigasi tetes, penanaman cabai tidak mengenal musim, dapat meningkatkan produksi cabai petani dan dalam setahunnya bisa lebih dari satu kali panen. Cabai yang ditanam juga sangat ramah lingkungan karena kelompok tani selalu didorong untuk seminimal mungkin dalam penggunaan pestisida, sehingga tanaman yang dihasilkan aman untuk di konsumsi warga. Selain itu, untuk memperbaiki proses produksi menjadi lebih ramah lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas produk sesuai standar, pemerintah daerah juga berupaya melalui pelaksanaan Sekolah Lapang Good Agricultural Practices (SL-GAP) Tanaman Cabai bagi kelompok tani. *(JH/Relhum)