Inflasi Menghantui Perekonomian Tanbu

    0
    27

    Pejabat Bupati Tanbu Drs. H. Wahyuddi, M.AP memberikan sambutan dalam rakor TPID di ruang rapat Setda Tanbu. (FOTO:win/hum)

    BATULICIN, BalarindangNews.com-Banyaknya kebutuhan barang tidak seimbang dengan perputaran nilai uang di pasaran membuat diseluruh daerah, khususnya kab Tanah Bumbu dikhawatirkan terancam inflasi, sehingga Tim Pemantauan dan Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Selasa (2/2) kemarin, melakukan rapat koordinasi program kerja tahun 2016 guna mempercepat pembenahan tata niaga komoditas pangan serta menstabilkan laju inflasi.

    Dalam rakor tersebut, Penjabat Bupati Tanbu Drs. H. Wahyudin, M.AP menjelaskan, Inflasi merupakan satu fenomena dan kecendrungan pada kenaikan harga secara umum terus menerus berlangsung dalam kurun waktu tertentu. Oleh karenanya, perlu dirumuskan program kerja agar harga pangan tidak menggerogoti daya beli, “Inflasi yang tinggi bagian permasalahan dalam ekonomi kerena dapat mengurangi daya beli masyarakat  dan menciptakan ketidakpastian dalam  perekonomian, menghambat investasi dan menurunkan daya saing produk dalam negeri,” kata Wahyuddin.

    Suatu daerah harus mengenal berbagai jenis potensi unggulan yang dapat menunjang peningkatkan perokonomian, serta harus memahami hal-hal yang menghambat dalam memajukan pelaksanaan pembangunan dan pertumbuhan daerah. Sebab, pada dasarnya persoalan ekonomi didaerah merupakan bagian dari pergerakan inflasi disetiap daerah. Namun demikian, guna memajukan ekonomi sebuah daerah tersebut, semuanya  tetap harus  mengacu pada UUD.

    Sekretaris Daerah Propinsi Kalsel M.Arsyadi saat membuka Rapat koordinasi program kerja tahun 2016 TPID Kab Tanbu. (FOTO:win/hum)

    Dengan adanya upaya tersebut, akan menjaga stabilitas laju inflasi Tanbu agar selalu berada pada tingkat yang rendah dan stabil sehingga terwujud keberhasilan dalam bidang ekonomi, “ dengan pencapaian inflasi yang rendah dan stabil akan menjadi sebuah prasyarat tercapainya pertumbuhan ekonomi yang mantap dan berkesinambungan,” papar Wahyuddin.

    Sementara itu, Sekretaris Daerah Propinsi Kalimantan Selatan M. Arsyadi menyampaikan, mengacu pada hukum ekonomi, suplay dan diment harus stabil kerena berdasarkan teori ekonomi, apabila suplay  tetap, maka harga akan naik, sebaliknya bila suplay tambah maka harga akan turun. “Jika suplay tetap saja harga menjadi naik, apalagi jika suplay berkurang, dapat dipastikan harga akan semakin naik,” jelas Arsyadi.

    Dengan demikian, pemerintah selaku administrator melalui Dinas Pertanian, Perdangangan dan Industri agar bisa mengatur dan menjaga kestabilan di daerah, sehingga harga-harga menjadi terkendali dan tidak terjadi inflasi yang berlebihan.*(JH/hum)