Panen Perdana Jagung Hibrida

    0
    10

     

    Staf Ahli Bupati Bidang Pemberdayaan Masyarakat Drs. H. Fadliansyah bersama jajaran SKPD dilingkup Pemkab Tanbu turut serta mengikuti panen perdana jagung hibrida bisi dua di Kec. Kusan Hilir. (FOTO:win/hum)

    BATULICIN, BalarindangNews.com-Saudara, Rabu (16/3) kemarin masyarakat Desa Saring Sungai Bubu Kec. Kusan Hilir menggelar syukuran atas keberhasilan panen perdana jagung hibrida bisi dua oleh Kelompok Tani Kupang Rabah. Hal tersebut menjadi bukti nyata keberhasilan petani Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu) dalam melaksanakan kegiatan program UPSUS tahun 2015 yaitu gerakan penerapan pengembangan tanam terpadu.

    Acara syukuran panen perdana jagung hibrida diikuti jajaran muspika Kecamatan Kusan Hilir dan jajaran SKPD dilingkup Pemkab Tanbu. Staf Ahli Bupati Bidang Pemberdayaan Masyarakat Drs. H. Fadliansyah Akbar berharap dengan dilakukannya syukuran panen perdana dapat memotivasi para petani untuk terus meningkatkan kualitas usaha taninya, semoga syukuran panen perdana ini akan lebih mendorong dan memotivasi para petani agar terus meningkatkan kualitas usaha taninya, terutama dalam peningkatan kualitas produksi, sehingga dengan produksi itu memberi manfaat buat kemajuan Tanah Bumbu dalam pengembangan jagung hibrida,kata Fadliansyah.

    Drs. H. Fadliansyah Akbar memberikan sambutan dalam acara syukuran panen perdana jagung hibrida. (FOTO:win/hum)

    Selain itu, Fadliansyah juga menambahkan, pengembangan produksi jagung hibrida kedepannya harus dipersiapkan lebih baik lagi guna mendorong peningkatan pendapatan asli daerah, kerena selama ini  pendapatan daerah lebih banyak mengandalkan dari sektor pertambangan. Kalau jagung ini lebih serius dikembangkan, maka tidak menutup kemungkinan wilayah kita akan sama seperti Kabupaten Gorontalo yang telah berhasil melakukan pengembangan jagungnya, katanya.

    Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan (Distanpanak) Drs. Abdul Karim menyampaikan, sudah saatnya kab Tanbu mengoptimalkan pengembangan jagung hibrida dengan merubah pola pikir petani secara modern sehingga generasi petani akan bisa diandalkan pada masa berikutnya. Mulai sekarang petani harus merubah pola pikir, bukan berarti mengarahkan masa depan anaknya agar tidak bernasib seperti orang tuanya, namun kita harus mengarahkan anak kita agar menggunakan waktu libur sekolah untuk mengenal cara bercocok tanam, tanpa mengabaikan pendidikan yang sedang ditekuninya,” papar Abdul Karim.

    Dengan pola pikir yang dirubah dan upaya pengenalan bercocok tanam, maka tidak menutup kemungkinan kedepannya akan melahirkan generasi baru yang dapat menciptakan inovasi dalam rangka meningkatkan produksi tanaman pangan lainnya termasuk produksi jagung hibrida. Sehingga dapat mengangkat tanaman jagung hibrida menjadi salah satu pendorong guna meningkatkan pendapatan asli kab Tanbu. *(JH/hum)