Penegak Hukum dan Pejabat diduga Muluskan Peredaran Narkoba

    0
    3

    Koordinator KontraS  (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) Haris Azhar. (FOTO:facebook/net)

    JAKARTA, BalarindangNes.com-Diujung proses eksekusi mati gembong narkoba Freddy Budiman, Koordinator KontraS  (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) Haris Azhar menguak dugaan adanya keterlibatan sejumlah pejabat dan penegak hukum di indonesia dalam kasus penyelundupan narkotika.

    Dalam tulisan Haris Azhar yang diposting dalam laman facebook KontraS, Freddy menyebutkan selama beberapa tahun bekerja menyelundupkan narkoba, ia telah memberi uang dengan nilai miliaran rupiah kepada BNN dan Pejabat Polri. “Dalam hitungan saya selama beberapa tahun kerja menyeludupkan narkoba, saya sudah memberi uang 450 Miliar ke BNN. Saya sudah kasih 90 Miliar ke pejabat tertentu di Mabes Polri.” kata Freddy seperti dikutip dari tulisan yang diposting Haris Azhar, Kamis (28/7) lalu.

    Freddy Budiman.( FOTO:kompas.com/Andri Donnal Putera)

    Saat dikonfirmasi terkait kebenaran tulisan itu, Haris Azhar membenarkan bahwa ia yang membuat sebuah tulisan yang memuat cerita Freddy Budiman tentang peredaran narkoba dengan melibatkan aparat penegak hukum. “Benar (itu tulisan saya),” seperti dikutip dari situs media online Okezone.comJumat (29/7/2016).

    Tidak hanya adanya setoran sejumlah uang saja, bahkan dalam tulisan mengenai percakapan antara Freddy Budiman dengan Haris Azhar tersebut, mengungkap bahwa Freddy pernah menggunakan fasilitas mobil TNI bintang 2 untuk mengamankan narkoba yang dibawanya dalam perjalanan dari Medan ke Jakarta. “Bahkan saya menggunakan fasilitas mobil TNI bintang 2, di mana si jendral duduk di samping saya ketika saya menyetir mobil tersebut dari Medan sampai Jakarta dengan kondisi di bagian belakang penuh barang narkoba. Perjalanan saya aman tanpa gangguan apapun.” kata Freddy kepada Haris seperti tertulis dalam pernyataannya.

    Penampilan Freddy Budiman berubah menjadi lebih religius.(FOTO:beritagar.id)

    Selain itu, Freddy juga membuka rahasia bisnis narkobanya, kepada Haris, Freddy mengaku bukan bandar narkoba, melainkan operator penyelundupan skala besar. Bosnya ada di Cina. Setiap kali akan membawa barang masuk, dia lebih dulu menghubungi polisi, Badan Narkotika Nasional, serta Bea dan Cukai untuk kongkalikong. “Saya bukan bandar, saya adalah operator penyeludupan narkoba skala besar, saya memiliki bos yang tidak ada di Indonesia. Dia (Boss saya) ada di Cina. Kalau saya ingin menyeludupkan narkoba, saya tentunya acarain (atur) itu, saya telepon polisi, BNN, Bea Cukai dan orang-orang yang saya telpon itu semuanya nitip (menitip harga).” Papar freddy dalam kutipan percakapan tersebut.

    Dalam lanjutan tulisan percakapan Freddy dan Haris, Freddy meceritakan, “para polisi ini juga menunjukkan sikap main di berbagai kaki. Ketika saya bawa itu barang, saya ditangkap. Ketika saya ditangkap, barang saya disita. Tapi dari informan saya, bahan dari sitaan itu juga dijual bebas, saya jadi dipertanyakan oleh Bos saya (yang di Cina). Katanya udah deal sama polisi, tapi kenapa lo ditangkap? Udah gitu kalau ditangkap kenapa barangnya beredar? Ini yang main polisi atau lo?” paparnya.

    Perlu dipertanyakan, mengapa hanya Freddy saja yang dibongkar, yang akhirnya divonis hukuman mati, kemana para pejabat dan penegak hukum yang telah melindungi praktik penyelundupan narkoba dan peredarannya. Jika praktik mafia peradilan, kriminalisasi, korupsi, bahkan rekayasa kasus masih mewarnai proses penegakan hukum di indonesia, lalu bagaimanakah dengan nasib masa depan bangsa yang semakin porak-poranda. Siapa yang akan bertanggung jawab akan krisis moral yang menjangkiti para petinggi negara, yang menyebabkan luluh lantahnya masa depan anak bangsa termasuk juga negara indonesia.*(Disarikan dari berbagai sumber/net/BNews)