Akankah Nusantara Bersatu Masuk Agenda Tahunan

    0
    12

    FOTO:dd/hum

    BATULICIN, BalarindangNews.com-Apel nusantara bersatu yang berlangsung serempak di seluruh wilayah Indonesia, Rabu (30/11) lalu, menjadi buah bibir di kalangan masyarakat. Terlebih-lebih bagi yang idealis dan kritis terhadap sistem pemerintahan di era Jokowi, terutama di bidang tatanan hukum dan keadilan.

    Tidak ketinggalan pula di Kab Tanah Bumbu (Tanbu) yang juga ikut melaksanakan kegiatan serupa. Perlu di tilik kembali manfaat dan makna yang terkandung dalam kegiatan tersebut. Meski orasi yang disampaikan menggelorakan semangat persatuan dan kesatuan NKRI, namun jangan sampai hal itu hanya menjadi slogan kosong belaka.

    Salah satu politisi Indonesia, Fahira Idris yang turut bersuara dalam akun twitter pribadinya menyampaikan, “Sebenarnya kita sedang tidak ada masalah perpecahan di Nusantara.. Kita sedang punya masalah dengan penegakan hukum di nusantara,” tulisnya.

    Benar dengan apa yang dikatakan Fahri Idris. Hal inilah yang perlu digali kembali, apa sebenarnya makna dari kegiatan Apel Nusantara Bersatu. Sedangkan jika diteropong kebelakang, sudah dari dulu negara Indonesia ini bersatu dalam konsep Bhineka Tunggal Ika, mengapa kegiatan tersebut tidak dilakukan sejak dulu, bahkan pelaksanaanya sekarang terkesan dadakan.

    Monolog dalam penyampaian orasi tentang perpecahan persaudaraan seolah hanya sebuah fatamorgana dan mimpi kosong. Bahkan hal tersebut juga bisa dikatakan pembodohan publik dalam bentuk aksi masal yang notabene bukanlah suatu solusi dari permasalahan yang ada. Hal ini hanya dampak dari kasus sara yang dilakukan seorang oknum pejabat publik yang melecehkan kaidah salah satu ajaran agama.

    Meski dalam apel tersebut Bupati Tanbu menyampaikan agar seluruh lapisan masyarakat menghindari segala bentuk hasutan yang tidak bertanggung jawab melalui media sosial (medsos) , atau segala hal yang yang berpotensi propaganda. Namun, tidak lantas akan mengakhiri masalah krusial yang tengah terjadi. “Harus kita saring secara objektif, jangan sampai karena hasutan melalui medsos justru akan menggiring sebuah opini buruk demi memecah persaudaraan sesama kita,” kata Mardani.*(Tim BNews)