Harga Daging Ayam Potong Melambung, Pedagang Kuliner Pasar Blauran Mengeluh

0
8

FOTO : Ist

MARTAPURA, BalarindangNews.com – Harga daging ayam potong masih melambung dalam sepekan terakhir. Di Pasar Tradisional Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan harga per ekor ayam potong Rp65.000 – Rp70.000.

Imbas mahalnya daging ayam dirasakan para pedagang kuliner di kawasan Pasar Belauran Martapura. Pedagang mengeluh penghasilannya merosot.

“Kenaikan harga ayam potong ini tentu sangat berpengaruh terhadap pendapatan kami sehari-hari, karena satu ayam potong dapat diolah menjadi 50 tusuk sate, sedangkan harga per tusuknya cuma Rp2000, belum termasuk hitungan bumbu, saos dan lain sebagainya,” kata H Usai, salah seorang pedagang ditemui klikkalimantan.com, Kamis (25/7/2020).

 

Kondisinya semakin sulit lantaran pandemi covid-19. Pasalnya sejumlah tempat yang kerap dikunjungi wisatawan dan peziarah dari luar daerah terpaksa ditutup, makam Guru Sekumpul utamanya. Alhasil, kuliner dagangannya sepi pembeli. “Sehari rata-rata hanya 2 – 7 pembeli,” ujarnya.

Mahalnya harga daging ayam potong diakui Dondit Bekti, Kepala Dinas Peternakan dan Perkebunan (Disnakbun) Kabupaten Banjar. Lonjakan harga disebabkan wabah covid-19 pada Maret 2020 lalu yang berdampak turunnya daya beli masyarakat hingga 50 persen.

Penurunan daya beli berimbas pada harga ayam yang juga anjlok. Bahkan sempat Rp8.000 per kilogramnya. “Karena ayam broiler ini 100 persen di handel kemitraan, sehingga inti pihak Usaha Dagang (UD) pun melakukan depopulasi atau penurunan kapasitas sekitar 20 – 40 persen,” sebutnya.

Kalau tidak dilakukan depopulasi, dikatakan Dondit, akan zemakin banyak stok ayam broiler, kalau terjadi kerugian plasma tidak menanggung. Namun, kerugian ditanggung inti perusahaan.

“Kalau peternak ruginya cuman tidak dapat bonus karena harganya dibawah kontrak. Siklus inikan terjadi beberapa bulan, akibatnya depopulasi ini ayam pun berkurang, sedangkan permintaan kembali meningkat sehingga terjadi kelonjakan harga,” jelasnya.

Dondit pun memastikan, Inti perusahaan mulai memulihkan depopulasi ke kapasitas normal. “Selama perusahaan inti saling berkomunikasi dan berkoordinasi dalam pendistribusian produknya, insayaallah tidak akan terjadi kelonjakan harga,” tuturnya. *(BNews/zai/klik)