Bekerja Sama dengan Balai Bahasa Kalsel, Pemkab Tanbu Gelar Kelompok Diskusi Terpumpun

0
25

BATULICIN, BalarindangNews.com– Untuk memberikan edukasi kepada masyarakat dalam penggunan tata bahasa dimedia sosial, sehingga tidak sampai terjerat dalam hukum khususnya undang-undang IT. Kamis, (04/03/2021), Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan menyelenggarakan kegiatan Diskusi Kelompok Terpumpun Resolusi Konflik Kebahasaan di masyarakat,di ruang rapat Bersujud I, Kantor Bupati Tanah Bumbu.

Kegiatan ini menghadirkan Narasumber Dari Polres Tanah Bumbu Ipda Hendarta. S, Kepala Dinas Kominfo Ardinsyah,S.Sos dan dihadiri dari Anggota Polres Tanah Bumbu, Kepala SKPD, Para Ormas, Mahasiswa dan Wartawan.

Pelaksana Harian Kepala Balai Bahasa Provinsi Kaliamantan Selatan Mangara Siagian Siregar, menyampaikan, banyaknya kotakasa yang ada perlu dipelajari untuk memahami maknanya. “Penting untuk memahami kosakata bahasa Indonesia untuk memperkaya khazanah bahasa Indonesia,” kata Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan dalam laporanya.

Mangara berharap dilaksanakannya diskusi kelompok terpumpun resolusi konflik kebahasaan ini, diharapkan dapat menghasilkan kesepahaman bersama dan langkah lain yang dibutuhkan, dalam menumbuhkan kesadaran kepada masyarakat khususnya masyarakat Kabupaten Tanah Bumbu mengenai aturan dan etika menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar di media sosial.

Dilaksanakanya kegiatan ini sangat strategis dan penting untuk dilakukan dalam pemakaian Bahasa Indonesia secara baik dan benar terutama bagi insan media. Apalagi sekarang era globalisasi, kemajuan teknologi informasi membuat masyarakat semakin kritis dalam melihat sebuah informasi.

Sementara itu Bupati Tanah Bumbu dr. H. M. Zairullah Azhar, M. Sc melalui Pelaksana Tugas Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan, H. Rahmat dalam sambutanya mengatakan, “Seperti yang kita ketahui bersama, masyarakat Kabupaten Tanah Bumbu, sudah mulai mengikuti perkembangan dunia digital yang semakin pesat. Perkembangan ini tidak diiringi oleh pemahaman mendalam tentang etika berkomunikasi di dunia internet, contoh kasusnya ialah tersebarnya media hoax atau berita yang tidak benar”, Ujarnya.

Lebih lanjut H. Ramat menambahkan, ”fenomena ini terjadi akibat ketidaktahuan masyarakat akan etika berkomunikasi di internet melalui media sosial, disamping itu, penggunaan media sosial dianggap paling efektif untuk berkomunikasi pada era digitalisasi ini. Sehingga, kita perlu menanggulangi peningkatan angka cybercrime yang terjadi dengan memberikan pemahaman mengenai tata cara berbahasa yang tepat dalam penggunaan internet.*(BNews)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

eighteen − fourteen =